Subscribe:

Minggu, 30 Januari 2011

Ucapan Maa Syaa Allah

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semiga terlimpah kepada Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabatnya serta umatnya yang senantiasa berpegang dengan sunnah-sunnahnya.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ وَمِنْ نَفْسِهِ وَمِنْ مَالِهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيُبَرِّكْهُ فَإِنَّ العَيْنَ حَقٌّ

"Apabila salah seorang kalian melihat kekaguman pada saudaranya, pada dirinya, dan hartanya, hendaknya dia mendoakan barakah untuknya, karena pengaruh 'ain itu benar adanya." (HR. Ahmad 3/447, al-Hakim 4/215 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam al Silsilah al Shahihah no. 2572 dan al Kalim al Thayyib no. 244)

Menurut petunjuk hadits di atas, jika kita melihat kekaguman pada diri saudara kita, hartanya, anaknya, kendaraannya, atau yang lainnya maka kita mendoakan keberkahan. Manfaatnya, agar tidak tertimpa penyakit ‘ain, yaitu penyakit yang disebabkan oleh pengaruh buruk pandangan mata yang yang takjub dengan diiringi iri dan dengki terhadap apa yang dilihatnya. Namun, terkadang pandangan yang tidak disertai rasa dengki-pun, dengan izin Allah, bisa menyebabkan pengaruh buruk ‘ain, walaupun orang tersebut tidak bermaksud menimpakan ‘ain. Bahkan ini terjadi pada para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang sudah terkenal akan kebersihan hati mereka.

Namun, ada sebagian orang apabila kagum dengan sesuatu lalu dia berucap, Maa Syaa Allaah Laa Quwwata Illaa Billaah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Mereka berdalil dengan firman Allah Ta'ala dalam surat al-Kahfi dan dengan hadits Anas.

Pertama, Firman Allah Ta'ala:

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu Maa Syaa Allaah Laa Quwwata Illaa Billaah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)." (QS. Al Kahfi: 39)

Ayat tersebut tidak tepat dijadikan dalil untuk mengucapkan dzikir di atas ketika melihat sesuatu yang mengagumkan agar selamat dari pengaruh 'ain yang timbul dari kedegkian. Sebabnya, karena ayat tersebut tidak memiliki kaitan dengan tema bahasan tentang kedengkian. Sesungguhnya Allah menghancurkan kebunnya dikarenakan kekufuran dan sikapnya yang melampaui batas.

Menurut keterangan dari Syaikh Utsaimin, dzikir di atas disyari'atkan bagi sesorang yang kagum dan ta'ajub dengan hartanya sendiri. Fungsinya, sebagai ungkapan rasa syukur dan pengakuan bahwa nikmat tersebut datangnya dari Allah Ta'ala. Sebagaimana kisah dua pemilik kebun ketika salah seorang diantara mereka berkata kepada yang lainnya:

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

"Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu Maa Syaa Allaah Laa Quwwata Illaa Billaah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)." (QS. Al Kahfi: 39)

Adapun doa yang diucapkan untuk mencegah ‘ain ketika seseorang melihat sesuatu yang menakjubkan dari hartanya adalah dengan mendoakan keberkahan, sebagaimana dalam hadits pertama di atas.

Kedua, dalil dari hadits Anas bin Malik radliyallah 'anhu. Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang melihat sesuatu yang membuatnya kagum, hendaknya dia berucap: Maa syaa Allaah Laa Quwwata Illa Billaah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) karenanya dia tidak tertimpa kedengkian 'Ain." (Hadits ini sangat lemah) Imam al Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari riwayat Abu Bakar al Hudzali, dia seorang yang sangat lemah. (Majmu' al Zawaid: 5/21) karenanya tidak bisa digunakan dasar untuk membenarkan dzikir di atas ketika melihat sesuatu yang membuat takjub.

Jika Melihat Kebaikan Pada Orang Lain

Jika ia melihat sesuatu yang menakjubkan pada orang lain, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan. Di antaranya dengan mengucapkan: Baarakallah 'alaihi (Semoga Allah memberkahi atasnya), Baarakallah Fiihi (Semoga Allah memberikan berkah padanya), Allahumma Baarik 'Alaihi (Ya Allah berkahilah atasnya) atau kata-kata yang sejenisnya.

Dan jika ia melihat sesuatu yang menakjubkannya dari perkara dunia, maka hendaklah mengatakan:

لَبَّيْكَ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشَ الآخِرَةِ (Labbaika, innal ‘aisy ‘aisyal Aakhirah). Artinya, "Kupenuhi panggilan-Mu (yaa Allah), sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 4/107, al-Baihaqi 7/48 dan al-Hakim 1/465, dishahihkan al-Hakim dan disepakati adz-Dzahabi).

Fungsinya, untuk mengingatkan dirinya bahwasanya kehidupan dunia bagaimanapun juga akan hilang dan tidak ada kehidupan yang hakiki di sana, dan kehidupan yang hakiki adalah di akhirat nanti. Wallahu a'lam bil shawab.

Read More..

Selasa, 25 Januari 2011

Tomboy..NO WAY!!

Cewek Tomboy, kliatannya asik ya?? Lihat aja deh gaya dandannya, gaul abies kalau istilahnya sekarang. gaya berpakaiannya juga lain, hobinya, sampai ke tingkah laku sehari- harinya juga beda. Denger denger sih, dari beberapa fakta yang terkumpul, ada banyak cewek akan ngerasa seneng banget saat orang- orang ngakui kalau dia tomboy, dengan kata lain dia merasa tangguh, tahan banting, kuat, ga pake nangis, bla bla bla. Padahal,Sesungguhnya Allah akan melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Naudzubillah...

Seberapapun kamu coba ngingkarin, toh perabotan alaminya ya tetep aja judulnya cewek. Mau operasi ganti kelamin? Apa iya segitu pengennya kamu jadi cowok sampe punya pikiran gitu? Jujur aja lah, sekali waktu walau Cuma sekali aja dalam hidupmu, hati kamu tetap mengakui kamu tuh emang cewek. Iya kaannn??
Jadi cewek berani emang kudu lagi, berani bilang “ga mau!!” kalau ada temen yang ngajak maksiat alias kriminal alias dosa. Justru kamu akan salah kalau kamu takut nolak. Tapi inget, cewek berani nggak harus tomboy yang diwujudkan pada kelakuan. Bayangin aja, masak iya, kamu mau ikut nguber maling lari- lari bawa pentungan? Wah kacau..

Cewek aslinya diciptakan dengan kelembutan, itu anugerah lho. Walaupun kadang kita kudu keras juga tapi tetep dalam hal positif dunk, contoh Keras kemauan dan tekad dalam ngedapetin cita- cita, atau dalam hal pegang prinsip, tapi ntar dulu, kita juga harus mikir prinsip yang mana dulu. Jangan sampai kita keukeuh jumekeh dengan prinsip pake jins belel dan kaos oblong, padahal aturan muslimah kan udah ada pren. Udah jelas dalam Islam kan jilbab dan kerudung itu wajib, masak aturan Allah SWT mau dilanggar juga, wah itu namanya nekatz.

Terus gimana dunk kalau dah telanjur kebentuk gitu? Sante girl, Setomboy apa pun kamu, Islam tahu lagih cara menyikapinya. Perjelas aja identitasmu dengan pake kerudung plus jilbab. Loh kok? Ya iya laa, walaupun tubuh kamu segedhe apa juga, kalau kamu pakai kerudung dan jilbab, teteep judulnya cewek.

Terus apakah jins en kaos belel kudu di kiloin? hmm ga juga kali’, semua kamu pake dalam rumah atau sebagai pakaian ‘daleman' jilbabmu itu. Insyaallah Dengan jilbab dan kerudung ini, maka setomboy apa pun kamu akan selalu diingatkan secara langsung or nggak langsung tentang jati diri kamu sebagai seorang wanita muslimah.

Apa kamu tau Ummu Imaroh. She was a great woman. Mulai dari Baiat Aqobah, Perang Uhud, Perdamaian Hudaibiyah, Perang Khaibar dan perang Hunain, semuanya ada partisipasi wanita perkasa ini. Di perang Uhud beliau terluka sebanyak dua belas goresan dan ketika perang Yamamah sebelah tangannya putus (dahsyat!!)

Selain itu Asma binti Abu Bakar, beliau juga ikut dalam perang Yarmuk sehingga dijuluki ‘Dzaatin Nithaqain' atau wanita bersabuk dua. Selain itu, Asma binti Yazid al-Anshoriah. Di perang Yarmuk berhasil membunuh sembilan prajurit Romawi di medan pertempuran. (Wonder woman lewat deh!!)

Selain itu,Gazalah al-Haruriah, Hindun binti Utbah bin Rabiah, dan Juwairiyah binti Abu Sofyan, mereka juga ikut lho dalam perang Yarmuk dan terjun langsung dalam kancah perang dan ngebunuh musuh-musuh Islam. Belum lagi kalau kamu tahu yang namanya Khaulah binti Azwar al-Asadi yang aktivitas kemiliterannya mirip dengan Khalid bin Walid.(great!!)

So, ngelihat fakta diatas, percuma deh kalau kamu Cuma ngerasa bangga karena tampilan kamu yang tomboy tapi sama sekali ga tangguh dan tegar, kuat kemauan dan mandiri. Dan satu hal yang kudu di Inget juga lo yach, Sesungguhnya Allah akan melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. Naudzubillah... So, tau kan selanjutnya kita harus ngambil langkah apa??
Read More..

Belajar Sholat yang Khusyu

Perlu disadari bahwa waktu untuk kita dalam keadaan peling dekat dengan Allah adalah saat kita sedang sholat. Kenapa dekat? Jawabannya karena sholat adalah ibadah yang palin utama untuk menyembah kepada Allah SWT. Namun sekarang kita intropeksi diri, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kita sering terburu-buru untuk melaksanakan sholat. Padahal sholat itu hanyalah 5 kali dalam sehari, dan tentunya tidak membutuhkan waktu yang cukup lama? Lalu apakah dengan sholat kita yang terburu-buru, sholat kita akan diterima oleh Allah SWT?

Sekarang kita simulasikan saja. Sholat itu doa, doa itu meminta kepada Allah. Kita contohkan kita meminta sesuatu misalkan uang kepada orang tua kita dengan berbicara cepat. Kita memang mengerti apa yang katakan, tapi orang tua kita pasti tidak akan mengerti. Kalau pun mengerti orang tua pasti akan merasa jengkel kepada kita. Nah itu baru dengan orang tua, lalu bagaimana kalau dengan Allah SWT? Allah memang benar Maha Tau, tapi Allah juga tidak menyukai kalau hambanya meminta dengan terburu-buru.
Oleh karena itu, mari kita belajar sholat yang khusyu untuk menyempurnakan sholat kita agar sholat kita dapat diterima oleh Allah SWT.

Berikut tips & trik sholat khusyu :

A. Berjamaah & Munfarid
1. Jangan hanya membaca dalam hati. Membacalah dengan bibir bergerak dan bersuara sangat lirih.
2. Jangan membaca saat menarik nafas. Diusahakan setiap habis satu ayat/sampai waqaf, berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Kemudian melanjutkan bacaan. Karena saya yakin anda tidak bisa berbicara saat menhirup udara.
3. Diusahakan membaca satu kalimat-satu kalimat saja. Setelah satu kalimat kita mengambil nafas kemudian membaca kalimat selanjutnya.
4. Sebelum bacaan selesai, jangan berganti gerakan. Misalnya saat membaca bacaan ruku, sebelum bacaan ruku selesai anda sudah mau itidal.
5. Panjang dan pendek bacaan harus diperhatikan.

B. Berjamaah
1. Bacaan imam = Bacaan makmum. Saat imam sedang membaca ayat-ayat suci Al Quran, makmum tidak perlu membaca ayat suci Al Quran juga. Tetapi cukup mendengarkan saja.
2. Jangan mendahului membaca “Amin” sebelum imam membaca. Karena sesungguhnya imam juga harus membaca amin setelah surat Al Fatihah. Contoh ketika imam sedang membaca “aaamiiiin”, kemudian makmum mengikuti saat imam membaca “Aaa”.
3. Jangan mendahului gerakan imam. Kita mengikuti gerakan imam setelah imam membaca suku kata yang terakhir. Misalkan “Allahuakbar”, kita baru bergerak setelah kata “bar”

Untuk menyempurnakannya kembali tentu kita sudah tau dengan istilah “Tumaninah”. Tumaninah artinya berhenti sejenak. Yaitu setelah kita membaca suatu bacaan sholat entah itu bacaan Al Fatihah atau bacaan ayat suci Al Quran atau bacaan Ruku, kita hendaklah berhenti sejenak untuk mengambil nafas sebelum membaca/melakukan gerakan selanjutnya.
Kurang lebih ada 8 tips dan trik untuk sholat khusyu. Semoga sholat kita dapat diterima oleh Allah SWT. Amin
Read More..

Jumat, 21 Januari 2011

Bersumpah dengan nama Rasulullah

Bersumpah dengan nama Rasulullah yang disandingkan dengan nama Allah, “Demi Allah, demi Rasulullah,” sering kita dengar. Dan setelah model sumpah ini beberapa kali ditayangkan televisi, seolah dia menjadi trend baru sumpah masa kini. Sehingga makin banyak umat muslim yang tidak mencukupkan sumpahnya hanya dengan menyebut nama Allah saja.

Satu contoh sumpah model ini adalah yang diucapkan Wakil Walikota Bekasi, Rahmat Effendi saat menjanjikan kepada ribuan umat Islam Bekasi yang melakukan aksi damai di kantor Walikota Bekasi, usai shalat Jumat (17/9/2010) siang untuk menuntut Pemkot Bekasi dan aparat kepolisian agar menindak tegas para pendeta dan jemaat Gereja HKBP yang melanggar peraturan pemerintah dengan melakukan kebaktian tidak pada tempatnya di kawasan Ciketing Asem.

“Kali ini saudara-saudara hadir meminta ketegasan saya sebagai kepala daerah, saya sampaikan demi Allah, demi Rasulullah teman-teman jemaat HHKBP tidak boleh beribadah di Ciketing lagi,” tegas Wakil Walikota yang akrab disapa Bang Pepen ini.

Kalimat sumpah dengan sesuatu yang diagungkan, terutama yang diimani keagungannya lumrah digunakan untuk meyakinkan perkataan atau janji kita kepada orang. Terlebih kalau kondisi sangat mendesak dan menghawatirkan, maka kalimat sumpah ini menjadi akternatif yang mujarab. Nyatanya massa muslim yang mayoritas berbaju putih itu pun menyambut pernyataan tegas Wakil Walikota Bekasi dengan takbir dan tepuk tangan meriah sebagai tanda yakin dan percaya atas pernyataannya. Apalagi ditambah pernyataannya, apabila tidak menepati janji, ia bersedia berhenti dari jabatannya demi membela agamanya dan kepentingan warga muslim Bekasi.

“Saya berhenti jadi wakil walikota kalau ucapan saya ini bohong,” imbuhnya yang dibadikan oleh voa-islam.com.

Sesungguhnya hak untuk diagungkan dengan dijadikan alat bersumpah hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karenanya bersumpah hanya dibolehkan dengan menyebut nama Allah semata, tidak boleh dengan menyebut nama selain-Nya, baik dengan sendirian atau disandingkan dengan nama Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pernah mendapati Umar bin al-Khathab bersumpah dengan menyebut nama bapaknya, lalu beliau menegurnya dengan bersabda,

أَلَا إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah atas nama bapak-bapak kalian. Barangsiapa yang bersumpah hendaknya bersumpah dengan nama Allah atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Barangsiapa yang bersumpah hendaknya bersumpah dengan nama Allah atau diam... (al-hadits)

Bahkan dalam hadits lain, bersumpah dengan nama selain Allah tergolong sebagai perbuatan syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu) yang merupakan dosa terbesar yang dilakukan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khathab radhiyallaahu 'anhu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

Barangsiapa yang bersumpah atas nama selain Allah maka dia telah berbuat kekufuran atau kesyirikan.” (HR. Abu Dawud dan al-Tirmidzi, beliau menghasankannya dan hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim)

Dan dalam Musnad Ahmad dengan sanad yang shahih, dari Umar bin al-Khathab radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِشَيْءٍ دُونَ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

Barangsiapa yang bersumpah dengan sesuatu selain Allah maka dia telah musyrik.

Hadits-hadits di atas menunjukkan haramnya bersumpah dengan nama selain Allah. Keharamannya tidak seperti perbuatan dosa besar lainnya, karena digolongkan sebagai keharaman yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir dan musyrik. Karenanya Ibnu Mas’ud pernah mengatakan,

لَأَنْ أَحْلِفَ بِاللهِ كَاذِبًا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنِ أَحْلِفَ بِغَيْرِهِ وَأَنَا صَادِقًا

Jika seandaninya saya bersumpah palsu atas nama Allah, sungguh hal itu lebih saya senangi daripada aku bersumpah dengan benar atas nama selain Allah.” (HR. Thabrani dengan para perawi yang shahih. Hadist shahih ini disebutkan oleh Al-Hafidz al Mundziri dalam al-Targhib wa al-Tarhib dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib no. 2953)

Sebenarnya Ibnu Mas’ud tidak menyukai yang pertama ataupun yang kedua. Beliau hanya ingin menunjukkan bahwa dosa bersumpah dengan selain Allah walaupun itu benar maka lebih berat daripada bersumpah dengan nama Allah tapi dusta. (Lihat Al-Qaulul Mufid, Syaikh Ustaimin, Daar al-Aqidah, Mesir: II/129 )

Syaikh Abdurrahman bin Hasan dalam Fathul Majid mengatakan, “Sebagaimana yang diketahui, bersumpah palsu (dusta) dengan nama selain Allah termasuk dosa besar, tapi perbuatan syirik termasuk perbuatan dosa besar yang paling besar walaupun itu syirik kecil. Maka jika syirik kecil seperti ini, lalu bagaimana dengan syirik besar yang menjadikan pelakunya kekal di neraka seperti berdoa kepada selain Allah, beristighatsah dan menggantungkan harapan kepadanya, serta menghaturkan berbagai hajatnya kepada selain Allah itu.”

Sementara Syaikh Sulaiman bin Abdillah dalam kitab Taisir al-‘Aziz al-Hamid menjelaskan, “Sesungguhnya alasan Ibnu Mas’ud radhiyallaahu 'anhu yang lebih memilih bersumpah dusta (palsu) dengan menyebut nama Allah daripada bersumpah yang benar dengan nama selain-Nya adalah karena bersumpah dengan nama Allah adalah tauhid, sedangkan bersumpah dengan nama selain-Nya adalah syirik. Dan sesungguhnya kebaikan tauhid itu lebih besar daripada kadar kebaikan jujur dalam bersumpah dengan selain Allah. Sementara keburukan dusta lebih ringan daripada keburukan syirik. Demikian itu yang telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. . . dalam pernyataan itu terdapat dalil bahwa bersumpah benar dengan menyebut nama selain Allah lebih besar dosanya daripada melakukan sumpah palsu. Ini menjadi bukti bahwa syirik kecil lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar. Dan itu menjadi pendukung bagi kaidah yang masyhur, yaitu: “Mengambil keburukan yang lebih kecil bahayanya dari dua macam keburukan apabila harus memilik salah satunya.”

Lebih rinci lagi Syaikh Utsaimin menjelaskan dalam al-Qaul al-Mufid, sebenarnya bersumpah palsu dengan menyebut nama Allah termasuk dosa besar. Hal ini dapat dilihat dari dua sisi: Pertama, dustanya itu sendiri dan perbuatan dusta itu diharamkan. Kedua, kedustaan tersebut digandeng dengan sumpah yang mengandung pengagungan terhadap yang dijadikan sumpah, yaitu Allah. Berarti pelakunya telah mengurangi pengagungan terhadap Allah dan merendahkannya karena digunakan untuk suatu kepalsuan. Karenanya sebagian ulama menyebut sumpah palsu dengan menyebut nama Allah termasuk yamin ghamus (sumpah yang membenamkan), yaitu membenamkan pelakunya ke dalam dosa lalu membenamkannya ke dalam neraka.

Sedangkan sumpah dengan nama selain Allah walaupun benar, diharamkan dari satu sisi, yaitu syirik. Dan keburukan syirik lebih besar dari keburukan dusta, karena syirik adalah perbuatan dosa yang tidak terampuni. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Nisa’: 48)

Dan tidaklah Allah mengutus para rasul-Nya serta menurunkan kitab-kitab-Nya kecuali untuk membatilkan dan memerangi perbuatan syirik, karena syirik adalah dosa terbesar. “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Dan sebenarnya perbuatan syirik mengandung dusta. Orang yang menjadikan sekutu bagi Allah adalah seorang pendusta, karena Allah tidak memiliki sekutu. (Lihat Al-Qaulul Mufid, Syaikh Ustaimin, Daar al-Aqidah, Mesir: II/129)

Karenanya, janganlah bersumpah dengan nama selain Allah, siapa dan apapun itu, baik dia Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, malaikat Jibril, Ka’bah, Baitullah, langit, bumi, hidup, mati, kedudukan, atau makhluk Allah yang lain.

Bersumpah benar dengan menyebut nama selain Allah lebih besar dosanya daripada melakukan sumpah palsu. Ini menjadi bukti bahwa syirik kecil lebih besar dosanya daripada dosa-dosa besar.

Bersumpah dengan selain Allah termasuk syirik besar atau kecil?

Sesungguhnya bersumpah dengan menyebut nama sesuatu mengandung makna mengagungkannya. Sedangkan pengagungan semacam ini –pada dasarnya- hanya milik Allah semata dan hanya boleh dilakukan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Barangsiapa yang mengagungkan selain Allah dengan suatu pengagungan yang tidak layak diberikan selain kepada Allah, maka dia telah menjadi musyrik.

Menurut keterangan para ulama, bahwa bersumpah dengan menyebut nama selain Allah termasuk kufur kecil dan syirik kecil. Kecuali apabila dalam hatinya tertanam keyakinan mengagungkan makhluk seperti mengagungkan Allah atau meyakini –dalam sumpahnya itu- bahwa dia berhak mendapatkan ibadah selain Allah. Kalau seperti ini maka berubah menjadi syirik besar. Semoga Allah melindungi kita dari kesyirikan ini.

Bersumpah dengan nama selain Allah termasuk syirik kecil seperti bersumpah dengan menyebut, “Demi Jibril, demi Malaikat, demi Rasulullah, demi Ka’ba, bapakku, demi ibukku, demi jabatanku, demi hidupku, dan demi-demi yang lain”. Namun sekecil-kecilnya syirik, dosanya lebih besar daripada dosa-dosa besar selainnya. Maka siapa yang sudah terbiasa mengucapkan sumpah seperti itu hendaknya dia bertaubat dan meninggalkan sumpah-sumpah semacam itu.

Syaikh Ustaimin dalam Fatawanya pernah menceritakan, beliau pernah melarang seorang laki-laki mengatakan ‘Demi Nabi’. Ketika itu dia mengucapkan sesuatu kepada beliau sembari berkata, “Demi Nabi, aku tidak akan mengulanginya”. Dia mengucapkan ini hanya untuk menguatkan bahwa dia tidak akan melakukannya lagi akan tetapi terbiasa diucapkan lisannya. Maka beliau mengatakan, “Berusahalah semampumu untuk menghapus ucapan seperti itu dari lisanmu sebab ia adalah perbuatan syirik sedangkan perbuatan syirik amat besar bahayanya sekalipun kecil”. Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan pernah berkata, “Sesungguhnya kesyirikan tidak akan diampuni Allah sekalipun kecil”. Wallahu a’lam. [voa-islam.com]

Read More..

Sabtu, 15 Januari 2011

Pengen Rezeki.?? Singkirkan Dulu Tuhan Sesatmu!!

Rezeki mudah dicari.Cari saja dulu Sang Pemberi Rezeki. Rezeki gampang didapat,yaitu dengan mendekati Pemiliknya. Rezeki yang didapat dengan melupakan Allah atau dengan tidak melibatkan-Nya,adalah sungguh bukan rezeki,melainkan bibit penderitaan.

Allah Maha Pemberi rezeki kepada semua makhluk hidup ciptaanya.Tapi ketika Dia mau memberi rezeki spesialnya kepada seseorang, Dia melihat ada tuhan lain yang diyakini orang tersebut misalnya dukun,doa-doa sesat,atau bahkan azimat. Maka Allah seolah-olah berkata,"Mintalah dulu pada tuhanmu itu.Baru kalau dia tidak bisa memberimu rezeki, kamu mintalah rezeki padaku.Tapi singkirkan dulu tuhanmu dari hadapan-Ku."
Ada lagi perilaku yang mencerminkan ketidakpercayaan bahwa Allah-lah sebaik-baiknya pemberi rezeki.Yaitu manakala kita menempuh jalan-jalan haram dalam mengais rezeki. Bila begini,Allah akan "membiarkan" kita mencari sendiri rezeki yang cenderung dipaksakan ini. Kalau Allah sudah membiarkan,lalu akan jadi apa kita ini...???
Untuk itu marilah kita mencari rezeki itu dengan melibatkan Allah, niscaya rezeki yang kita dapatkan akan bermanfaat, rezeki itu akan mudah kita dapat,dan pastinya akan lebih mendekatkan kita kepada Allah.

"Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selainkan) dari Allah sesudah itu? karana itu hendaklah kepada Allah saja orang -orang mukmin bertawakal." (QS. Ali Imron:160)
:-)
ust.Yusuf Mansyur
Read More..

Jumat, 14 Januari 2011

Berubah? Siapa takut!

“Hidupku tak akan berubah sebelum aku merubahnya sendiri”

Aslinya kalimat ini berasal dari Al-Qur’an yang mulia yaitu Surat Ar-Ra'd 11. Tapi pada tampilan sebuah iklan, kalimat ini diucapkan oleh gadis belia yang semula berambut panjang dikepang dua, berkacamata, dan berpakaian cukup sopan meskipun belum menutup aurat. Lalu, setelah mengucapkan kalimat di atas, ia berubah tampilan. Rambutnya dipotong pendek dan dibentuk sedemikian rupa keluaran salon, dan yang paling parah adalah bajunya yang benar-benar umbar aurat. Bagian atas mengumbar dada, bagian bawah sangat pendek pula.

Pesan ini sungguh menyesatkan kamu, sobat muda. Di sini digambarkan seolah-olah hidup yang lebih baik adalah mempermak diri secara fisik terutama dengan cara umbar aurat sepert ini. Hidup yang semula terlihat monoton dengan tampang culun menjadi berubah ceria dan berwarna ketika berani merubah ke arah yang lebih ‘liberal’. Bila tak disertai dengan pemahaman yang benar, bukan tak mungkin akan banyak remaja yang tersesat dengan tayangan ini.

Perubahan, memang sebuah gaung indah yang banyak digemakan orang. Perubahan adalah lambang kedinamisan hidup. Seolah-olah kamu belum terlihat keren kalau belum ikut-ikutan menyuarakan perubahan. Masalahnya, perubahan seperti apa yang berusaha diraih? Apakah seperti yang ditampilkan oleh iklan amburadul itu? Atau perubahan sejati yang memang diidam-idamkan oleh semua orang demi meraih kebahagiaan sebenarnya?

Perubahan dilakukan karena orang ingin meraih sebuah hidup yang lebih baik. Perubahan yang membawa pada kondisi yang lebih buruk, bukan ini yang dimaksud oleh kata perubahan itu sendiri. Masalahnya persepsi baik dan buruk ini yang seringkali tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya. Bila ada perbedaan di sini, maka tentu saja kita akan memilih apa kata Islam saja untuk mendefiniskannya. Sesuatu dikatakan buruk adalah bila Islam menyebutnya buruk. Begitu juga apa yang dimaksud baik, maka lihat saja apa yang dimaksud baik oleh hukum syara’.

....Perubahan dilakukan karena orang ingin meraih sebuah hidup yang lebih baik. Perubahan yang membawa pada kondisi yang lebih buruk, bukan ini yang dimaksud oleh kata perubahan itu sendiri....

Gadis dengan gambaran di atas bukan melakukan perubahan namanya. Sebaliknya, gadis ini melakukan pengerusakan atas diri sendiri dan teman sebaya di sekitarnya dengan slogan sikapnya itu. Perubahan dikatakan apabila gadis yang semula berkepang dua, berkacamata, dan berpakaian cenderung sopan bermetamorfosa menjadi gadis yang kepang duanya hilang karena tertutup rapat oleh kerudung yang menutup hingga dada. Baju yang cenderung sopan itu berubah menjadi jilbab syar’i. Baju yang semula berupa kemeja panjang dan celana jins diganti dengan baju longgar tanpa potongan di tengahnya dan menutup baju dalam apabila di gadis akan keluar rumah. Kacamata itu pilihan, mau tetap dipakai atau dirubah lensa kontak, no problem.

Sosok inilah yang pantas mengucapkan slogan kalimat pembuka di atas. Gadis seperti ini benar-benar melakukan perubahan dalam makna positif dan bukan negative semacam umbar aurat dalam versi iklannya. Bila perubahan ini yang dimaksud, maka sungguh keren bila remaja putri semuanya mau mengikuti jejak sosok yang dimaksud dalam topik kali ini. Nah, sudahkah kamu ambil bagian dalam perubahan ini? Atau bahkan kamu menjadi bagian seperti sosok dalam iklan? Hiii.. na’udzubillah. Semoga perubahan apa pun yang kamu lakukan, patokannya hanya berlandaskan hukum syara’ semata ya. Siip deh ^_^ [ria fariana/voa-islam.com]

Read More..

Sabtu, 08 Januari 2011

Renungan Untuk Ikhwan & Akhwat di dunia maya

“Ukhti, aku tertarik ta’aruf sama anti.” Itulah kalimat yang sering diadukan oleh para akhwat yang penulis kenal. Dalam satu minggu bisa ada dua tawaran ta’aruf dari ikhwan dunia maya. Berdasarkan curhat para akhwat, rata-rata si ikhwan tertarik pada akhkwat melalui penilaian komentar akhwat.

Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, yahoo messenger, dll, menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas.

Begitu lembut dan halusnya jebakan dunia maya, tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan.

Kasus ta’aruf ini sangat memprihatinkan sebenarnya. Seorang bergelar ikhwan memajang profil islami, tapi serampangan memaknai ta’aruf. Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata ‘ta’aruf’, tanpa perantara.

Jangan memaknai kata “ta’aruf” secara sempit, pelajari dulu serangkaian tata cara ta’aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam. Jika memakai kata ta’aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis, lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah? Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta’aruf.

Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial, pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang ta’aruf, dan untuk menjaga perasaan masing-masing, digantilah status mereka berdua sebagai pasutri, sungguh memiriskan hati. Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya, berikut ini petikan obrolannya:

“Assalamualaikum ukhti,” Sapa sang ikhwan.

“‘Wa’alikumsalam akhi,” Balas sang akhwat.

“Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…” puji ikhwan tersebut.

Apakah berakhir sampai di sini? Oh no…. Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon, lantas si akhwat menjawab.

“Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak.”

Sang ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat. “Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.”

....Banyaknya jaringan sosial di dunia maya menjadikan akhwat dan ikhwan mudah berinteraksi tanpa batas. Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya....

Owh mengerikan, berlebay-lebay di dunia maya, syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan.

Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet mars, mengunjungi benua-benua di dunia. Hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay.

Ikhwannya membabi buta, akhwatnya terpedaya……a’udzubillah, bukan begitu ta’aruf yang Rasulullah ajarkan.

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!

Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.

....Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan?....

Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main.

Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka.

Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam, biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay.

Wahai Ikhwan,

Ini hanya sekedar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata-kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya.

....luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis....

Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis.

Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu!

Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu. Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf. Karena ta’aruf yang tidak berdasarkan aturan syar’i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri.

Duhai akhwat, terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka, apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?

Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya, waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.

....berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram....

Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak.

Duhai akhwat, ta’aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah. [Yulianna PS/voa-islam.com]

Read More..

Kamis, 06 Januari 2011

Hukum menghadiri pemakaman jenazah kafir

Hukum Menghadiri Penyelenggaraan Jenazah Orang Kafir

Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam untuk Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Dalam forum Tanya jawab di situs www.Islam-qa.com disebutkan seorang wanita yang baru masuk Islam menanyakan tentang hukum menghadiri upacara penyelenggaraan jenazah orang kafir di gereja.

Muslimah tersebut menceritakan, salah seorang kerabat dekatnya meninggal dunia. Padahal dia adalah orang yang paling dekat dengannya. Wanita tersebut telah ikut menghadiri upacara penyelenggaraan jenazah di Gereja. Kehadirannya di situ hanya duduk menyaksikan upacara tanpa ikut mengucapkan kalimat-kalimat doa yang dibaca jemaat gereja.

Kasus yang dihadapi muslimah tersebut boleh jadi dihadapi salah seorang kita yang hidup di negeri yang pluralitas ini. Karena perasaan pakewuh, sering kali mengalahkan prinsip dalam beragama. Terlebih di tengah-tengah zaman fitnah yang mengagungkan prinsip pluralisme beragama dan toleransi tanpa batas. Karenanya jawaban yang jelas dan tegas perlu diberikan dalam menjawab persoalan-persoalan yang bersinggungan dengan prinsip akidah dan keimanan.

Jawaban yang diberikan oleh tim pengasuh forum Tanya-jawab Islam dalam situs tersebut berusaha kami terjemahkan agar mudah dipahami oleh para pembaca.

Jawaban pertama

Seorang muslim tidak boleh ikut-ikutan mengurusi penyelenggaraan jenazah orang kafir, walaupun dia adalah orang dekatnya. Karena penyelanggaraan jenazah hanya menjadi hak muslim atas muslim lainnya. Itu termasuk bentuk menghormati dan memuliakan serta loyalitas yang tidak boleh diberikan kepada orang kafir.

Saat Abu Thalib, paman Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam meninggal dunia, beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk menguburkan jasadnya. Beliau sendiri tidak ikut mengurusnya dan tidak pula menghadiri penguburannya, padahal Abu Thalib dikenal memiliki peran yang sangat lebih dalam membela Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Juga Abu Thalib sangat menyayangi dan sangat baik kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Tidak ada yang menghalangi beliau dari bersikap demikian kecuali karena Abu Thalib meninggal di atas kekafiran. Bahkan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam sampai berucap, “Pasti aku akan memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang.” Lalu turunlah ayat,

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (QS. Al-Taubah: 113)

Dan turun pula,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi. . ” (QS. Al-Qashash: 56) (HR. Al-Bukhari no. 3884 dan Muslim no. 24)

Imam Abu Dawud (3214) dan Imam al-Nasai (2006) meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, berkata: “Aku berkata kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, ‘Sesungguhnya pamanmu yang tua lagi sesat telah meninggal dunia.” Beliau bersabda, “Pergi dan kuburkan ayahmu.”

Islam mengajak agar menyambung hubungan baik dengan kerabat dan berbuat baik kepada kerabat yang kafir. Hanya saja Dia memutuskan tali wala’ (kecintaan) antara seorang mukmin dan kafir. Apa saja yang dalam kategori wala’ maka dilarang. Sedangkan yang termasuk kategori berbuat baik dan memberi bantuan selain wala’ maka dilarang.

Imam Malik rahimahullah berkata, “Seorang muslim tidak boleh memandikan (mayat) ayahnya apabila ayahnya tersebut meninggal sebagai orang kafir. Ia tidak boleh mengantarkan jenazahnya dan memasukkannya ke liang kubur. Kecuali dia khawatir jenazahnya terlantar, maka dia menguburnya dengan tanah.” (Dinukil dari al-Mudawanah: 1/261)

Dalam Syarah Muntaha al-Iradaat (1/347) disebutkan, (Janganlah seorang muslim memandikan seorang kafir), karena larangan berwala’ terhadap orang kafir. Juga karena di dalamnya terdapat penghormatan dan penyucian baginya, maka tidak boleh sebagaimana menyalatkannya. Dan tidak didapatkan keterangan tentang memandikan dalam kisah Abu Thalib. Ibnul al-Mundzir berkata, “Tidak ada sunnah yang layak diikuti dalam memandikan seorang musyrik. Dan hadits Ali hanya menyebutkan menguruknya saja.”

(Dan juga tidak boleh mengafani dan menyalatkannya serta tidak boleh mengantarkan jenazahnya), berdasarkan firman Allah Ta’ala:

لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

Janganlah kamu menjadikan teman/penolongmu kaum yang dimurkai Allah.” (QS. Al-Mumtahanah: 13)

(Tetapi dia hanya diuruk/dikuburkan) karena tidak ada orang kafir yang menguburkannya. Kejadian ini seperti yang dilakukan terhadap orang-orang kafir pada perang Badar. Kaum muslimin menguburkannya di sumur. . . .” selesai.

Disebutkan juga dalam Kasyaf al-Qana’ (2/123): “(Pasal: Diharamkan seorang muslim memandikan orang kafir, walaupun ia kerabat dekatnya. Diharamkan pula mengakafaninya, menyalatkannya, mengantarkan jenazahnya, atau menguburkannya.) Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan teman/penolongmu kaum yang dimurkai Allah.” (QS. Al-Mumtahanah: 13) memandikan mereka dan semisalnya: bentuk berwala’ kepada mereka, karena hal itu sebagai penghormatan kepada mereka dan menyucikannya, serupa dengan mendoakannya. . . (Kecuali dia tidak mendapati orang selainnya yang menguburkannya. Maka dia menguburkan ketika tidak ada yang menguburkan), karena Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam ketika diberi tahu akan kematian Abu Thalib, maka beliau berkata kepada Ali: “Pergi dan kuburkanlah ia.” HR. Abu Dawud dan al-Nasai. Begitu juga para korban dalam perang Badar, mereka dilempar ke dalam sumur.” Selesai.

Dalam fatwa Lajnah Daimah (9/10) ditanyakan tentang hukum menghadiri jenazah kafir. Padahal itu sudah menjadi kebijakan politik dan kebiasaan yang disepakati.

Dijawab: “Apabila ada orang kafir yang mengurusi penguburannya, maka kaum muslimin tidak boleh ikut mengurusi penguburannya. Mereka tidak boleh bersama-sama dan saling membantu dengan orang-orang kafir dalam menguburkan mayat orang kafir. Atau menunjukkan sikap manis dalam mengantarkan jenazahnya, sesuai dengan tradisi politik. Karena tindakan itu tidak diketahui pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan Khulafa’ Rasyidin. Bahkan, Allah melarang Rasul-Nya berdiri di kuburan Abdullah bin Ubai bin Salul (untuk mendoakannya) dan menjadikan kekafirannya sebagai alasannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali men-shalat-kan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. Al-Taubah: 84)

Dan apabila tidak didapatkan seorangpun yang menguburkannya, maka kaum muslimin menguburkannya sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam terhadap korban perang badar dan juga terhadap pamannya Abu Thalib ketika wafat. Beliau berkata kepada Ali, “Pergi dan kuburkan ia.”

Syaikh Utsaimin pernah ditanya, “Apakah seorang muslim boleh menyelenggarakan jenazah non-muslim?”

Beliau menjawab, “Seorang muslim tidak boleh mengikuti penyelenggaraan jenazah non-muslim, karena mengantarkan jenazah termasuk hak muslim atas muslim lainnya. dan bukan hak seorang kafir atas muslim. Sebagaimana orang kafir tidak boleh pertama kali disalami dan tidak boleh dilapangkan jalannya sebagaimana sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,

لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلَامِ ، وَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إلَى أَضْيَقِهِ

Jangan mendahului orang Yahudi dan Nasrani dengan ucapan salam, bila kalian bertemu dengan seorang di antara mereka usahakan ia mendapat jalan yang paling sempit.” (HR. Muslim) Maka tidak boleh memuliakannya dengan mengantarkan jenazahnya, siapapun orang kafir itu, walaupun ia orang yang paling dekat denganmu.” (Ringkasan dari Fatawa Nur ‘ala al-Darb)

Seorang muslim tidak boleh ikut-ikutan mengurusi penyelenggaraan jenazah orang kafir, walaupun dia adalah orang dekatnya.

Jawaban Kedua

menghadiri jenazah kafir di gereja lebih parah daripada hanya sekedar mengikuti dan mengantarkannya. Karena menghadiri upacara ini pasti akan mendengar kekufuran dan kebatilan. Ini merupakan perkara yang dilalaikan oleh orang yang membolehkan untuk menghadiri upacara di gereja dan menyaratkan tidak ikut berpartisipasi dalam upacara yang dilaksanakan di sana. Karena duduk-duduk, menyaksikan dan mendengarkan kekufuran dan kebatilan adalah sebuah kemungkaran yang tidak boleh dilakukan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذاً مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعاً

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam.” (QS. Al-Nisa’: 140)

Imam al-Qurthubi rahimahullaah berkata, “Firman Allah Ta’ala: (Janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain) maksudnya selain kekufuran. (Tentulah kamu serupa dengan mereka): ini menunjukkan wajibnya menjauhi para pelaku maksiat apabila nampak kemungkarannya. Karena orang yang tidak menjauhinya, berarti meridlai perbuatan mereka. Dan ridla terhadap kekufuran adalah kekufuran.

Firman Allah 'Azza wa Jalla, (tentulah kamu serupa dengan mereka) maka setiap orang yang duduk di majelis maksiat dan tidak mengingkari para pelakunya maka ia mendapat dosa yang sama dengan mereka.

Seorang muslim harus mengingkari mereka apabila mereka membicarakan kemaksiatan dan melakukannya. Jika tidak mampu mengingkari, maka ia harus menjauh dari mereka sehingga tidak termasuk orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini.

Telah diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu 'anhu, beliau pernah menghukum orang yang meminum khamer (minuman keras). Lalu dikatakan kepada beliau, ada salah satu yang hadir, “-saat itu- ia sedang berpuasa.” Beliau tetap menghukumnya, lalu membaca ayat, “tentulah kamu serupa dengan mereka.” Artinya: ridla terhadap kemaksiatan adalah maksiat. Karena inilah beliau menetapkan sanksi atas orang yang berbuat dan yang meridhainya dengan sanksi maksiat sehingga mereka semua dihukum. Penyerupaan ini tidak dalam semua sifat, tapi menyerupakan hukum dzahir terhadap bandingannya. Sebagaimana dikatakan, “Setiap teman mengikuti siapa yang ditemaninya.” Selesai.

Imam al-Jashash dalam Ahkam al-Qur’an (2/407) berkata, “. . . dalam ayat ini terdapat petunjuk wajibnya mengingkati kemungkaran atas pelakunya. Dan di antara bentuk ingkarnya adalah menunjukkan kebencian jika tidak memungkinkan untuk menghilangkannya, tidak duduk bareng bersamanya, dan menjauhinya sehingga dia berhenti dan berganti kepada kondisi yang lain (tidak berbuat mungkar).” Selesai

Kesimpulan

Maka dari sini didapatkan kejelasan bahwa menghadiri upacara penyelenggaraan jenazah di gereja merupakan kemungkaran yang besar karena di dalamnya diperdengarkan kekufuran dan menghadiri perkara bid’ah. Sementara dia yang hadir hanya diam saja, tidak mengingkari. Dan juga hakikat dari menghadiri upacara penyelenggaraan jenazah adalah menghormati, memuliakan dan bentuk kecintaan kepadanya sebagaimana penjelasan di atas. Wallahu a’lam.
voa-islam.com
Read More..

Senin, 03 Januari 2011

Adakah yang mencitaiku?

Pernahkah terbesit di hati kita satu ungkapan, “Adakah yang mencintaiku?” Sederhana memang kata yang terbentuk dari hanya lima huruf yaitu “CINTA” itu. Cerita atau kisahnya memang tiada akhir, tiada pernah ada ujung karena di dalam melihatnya dari perspektif yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Tulisan ini bukanlah terlahir dari kata-kata Sang Pujangga, tetapi hanyalah perenungan sederhana dari kejadian yang tidak terduga. Dalam kesunyian hanya ada perangkat siar menjadi teman malam yang setia walaupun kutahu pasti ada keramaian diluar sana. Seringnya perasaan perpindahan dimensi waktu hadir dalam hidup dan semoga ini merupakan rahmat dari Allah untuk mengingatkan akan namanya “kematian” sebagai jembatan untuk bermuhasabah. Hanya sebuah pesan singkat yang mengetuk hati untuk mencoba bertanya akan hakekat cinta “Adakah yang mencintaiku?” “Ah memang sebuah pertanyaan bodoh!” Itulah sebuah komentar diakun facebook penulis ketika status ini ditulis.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)” (Qs Al-Baqarah 165) .

Hupss.. Sudah siapkah kita untuk menyelami indah dan agungnya cinta?. Ijinkanlah diri Anda untuk membaca kembali ayat cinta ini, cobalah terbuka menerima semuanya dan pahami, renungkanlah!!!

Baiklah mari kita urai rasa cinta itu pada sesama manusia, yang pertama adalah orang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk kita yaitu “Orang tua kita”. Subhanallah sungguh mulianya cinta orangtua bila dapat menjadikan anak-anaknya menjaga fitrahnya, sabda Rasulullah :

“Tiap-tiap anak dilahirkan berkeadaan fitrah (suci bersih), maka kedua-dua ibu bapanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR Bukhari).

Kemudian kita coba bahas secara ringkas juga arti dari teman atau sahabat. Semoga dengan adanya ayat berikut ini bisa menjadi peringatan kita dalam mengambil dan mengartikan “teman”. Adalah Ia yang mengajak kepada kesabaran dan kebenaran yang bisa dijadikan sebagai pendamping dalam hidup serta berhak mendapatkan gelar “teman”

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” (Ali Imran 118).

Sungguh hanyalah pada orang yang beriman ditananmkan pada hati mereka rasa kasih sayang itu, bukanlah kasih sayang yang semu tetapi yang menebarkan “Salaamun-alaikum”!!!

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-An’am 54).

Di akhir tulisan ini satu ayat yang menerangkan akan arti hakikat cinta ditujukan kepada “hati” yang merindukan cinta suci tidak ternodai yang akan mengantarkan satu kesatuan cinta terintegral di dalam kehidupan kita entah itu cinta kepada keluarga, pasangan hidup kita, teman atau sahabat kita serta mahluk disemesta alam. Semoga pertanyaan ini terjawab “Masih adakah yang mencintaiku?”

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (Al-Hujurat 7).
Read More..